|
|
 |
 |
|
Nov 8, 2007
A Gift for My Beloved Friend
"Huahaha... you must be kidding",ketikku di papan chatting, dengan menambahkan ikon tertawa terbahak. "Eh I'm serious loh.. if i resign will u miss me?", balasan dari seberang meja.
Ya, dia teman satu kantor, satu divisi, eh..bahkan satu tim. Tapi dia di bagian planning, sedangkan aku di investment. Di kantorku ada beberapa tim, satu tim terdiri dari planning dan investment. Kalau beberapa tim lain sering terdengar sedikit keluhan atau curhat; biasanya planning mengeluhkan investment-nya, atau sebaliknya investment mengeluhkan planning-nya, aku merasa kami berdua cukup bisa saling mendukung. Atau, setidaknya itu yang aku rasakan selama ini, entah dia. Atau mungkin dia sering komplen tentang aku tapi aku nggak mendengarnya Meja kami tidak terlalu jauh, hanya berjarak 1-2 meter. Tapi kami memang lebih sering bertegur sapa melalui papan chatting daripada ngobrol langsung terutama masalah gosip. Kalo kerjaan sih kami biasa saling teriak aja. Si Cina-Malaysia satu ini emang cukup nyeleneh dibanding pemandangan lain di kantor ini. Untuk ukuran orang asing yang kerja di sini, dia cukup fasih berbahasa Indonesia, tepatnya sih bahasa gaulnya, dan lebih spesifik kata-kata joroknya... Gayanya modis, dan lebih senang dibandingin dengan Ariel Peterpan meski sebenarnya lebih mirip Tomingse 
Kalo diinget-inget, sebenarnya nggak ada sesuatu yang serius banget kami pernah obrolkan kecuali kalo tentang pekerjaan. Untuk yang satu ini aku mengakui dia sangat profesional. Sepanjang ada di industri ini, dengan terpaksa aku harus mengakui dia adalah salah satu orang yang aku jadikan role model (jangan sampai dia baca ini, huhh...), selain beberapa orang lain yang sudah lebih dulu ada dan jago banget tentunya.
Sebelum lanjut, hey, don't get me wrong ya... akhir tulisan ini bukan mengarah pada bahwa aku suka apalagi jatuh cinta... uuhhh... sorry ya, nggak pernah terlintas (huahahaha...). Tapi pada saat dia bilang bahwa dia sudah mengirimkan surat resign, I can't pretend I'm gonna be OK. No, I'm not OK. Mungkin karena selama ini aku bisa mengandalkan dia di segala situasi ketika harus berhadapan dengan klien. Mungkin karena selama ini kami biasa saling mencela tanpa tertinggal sakit hati. Mungkin karena kami sering berbagi rahasia, mungkin karena kami sering bergosip... Mungkin. Tapi yang pasti, aku sedih, karena dia harus pergi sebelum doaku terkabul.
Well, segala sesuatu pasti ada sisi baiknya. Mungkin selama ini aku terlalu nyaman, mungkin ini saatnya aku tidak mengandalkan dia lagi atau siapapun, just do my best with confident.
It's not a goodbye, my friend. I believe you will keep disturbing me with your ugly icon on message board, sending me crazy videoclip or other stupid but funny thing, and update me some gossip. Coz I will do.
Believe you always be great wherever you are. Just remember, you have been a blessing for me and people arround you. And one more thing, if someday you find your self believe that the almighty God exists for you too, just close your eyes. In the same time I pray with you.
For Gordan Yap, the man I admire and I always pray for.
Posted at 03:36 pm by greeny
Permalink
Dec 5, 2005
- Choose the one you love.
- Choose the one who fulfill at least 85% of all conditions.
- Choose the one who love you more than you do, since too much love will kill you.
If I you are not the chosen one, it means I love you too much...
Posted at 11:35 am by greeny
Permalink
Oct 21, 2005
Panas sekali siang itu. Sudah tidak terhitung berapa kali aku mengelap keringat di keningku. Handuk kecil yang dari tadi aku gunakan mengelap keringat sudah tidak jelas bentuknya. Huh, kalo bukan karena tugas mid semester yang harus dikumpulkan minggu depan, rasanya nggak mungkin aku rela berjemur di bawah terik matahari Jogja yang semakin mematangkan kulit kuning langsatku ini. Lagian, kenapa sih tugas matakuliah fotografi ini bukan dengan tema binatang; setidaknya hunting di kebun binatang lebih adem, atau model, sehingga aku hanya perlu berlama-lama di studio dengan para model dadakan yang biasanya adalah teman-temanku sendiri dari sebuah akademi sekretaris. Tapi tema kali ini adalah arsitektur. Tidak ada pilihan lain selain gedung-gedung di sekitar Malioboro, seperti kantor pos, Bank Indonesia, atau benteng Vrederburg. Mungkin sebenarnya ada, tapi aku ikut suara terbanyak saja.
Perlahan aku menyandarkan diri di pagar kantor pos, kemudian aku membiarkan tubuhku merosot sampai terduduk di trotoar. Sambil tetap membiarkan kamera nikon tuaku tetap bergantung di leher, aku menyandarkan kepalaku sambil mengamati Erlin dan Monic yang tampak masih bersemangat memotret, sesekali mereka sibuk menggeser tripod mereka. Tiba-tiba aku menyadari aku tidak sendiri. Hanya berjarak sekitar satu meter di depan sebelah kanan dari tempat aku duduk, ada seorang perempuan tua dengan kebaya dan kain lusuh, dan sebuah mangkuk plastik berisi recehan yang tak kalah lusuhnya ada di depan kakinya yang duduk dilipat. Aku menaksir usianya lebih dari enam puluh tahun. Aku tidak menyadarinya tadi karena dia agak terhalang pohon yang diletakkan di sebuah pot permanen dari semen dan bata. Aku menyadari keberadaannya ketika dia sudah memutar badannya dan sedang menatap aku. Tatapannya aneh. Sempat terlintas ketakutan... jangan-jangan dia mau merampas kameraku, sehingga reflek aku memeluk kameraku lebih erat sambil tetap memegang botol minuman yang aku pegang dari tadi. Setelah beberapa menit, tatapan itu tetap aneh, tapi aku tidak takut lagi. Karena aku justru menangkap sorot kepedihan yang dalam yang mungkin sudah menjadi kristal. Aku merogoh saku jinsku dan mengulurkan selembar ribuan.
"Jangan, saya tidak minta uang...", katanya lirih dalam bahasa Jawa yang tidak jelas.
"Oh, maaf... atau mau minum Mbok?", aku berniat memesan sebotol lagi dari tukang teh botol tidak jauh dari situ.
"Mboten..., mboten, maturnuwun...", jawabnya lebih keras, tapi terdengar nelangsa.
Aku bingung. Aku menatap beberapa detik wajah keriput dan lusuh yang tampak kaku itu.
"Mbok, dari jam berapa di sini? Trus sampai jam berapa nanti?", tiba-tiba aku tidak ingin menghentikan pembicaraan.
Dia hanya menggeleng. Tapi kemudian menjawab juga, meski bagiku itu bukan jawaban atas pertanyaanku.
"Itu foto ya, cah ayu?", tanyanya sambil menggeser pandangan kebawah, di mana kameraku tergantung. Mata itu melembut, tapi bagian wajahnya yang lain tetap dengan ekspresi yang sama. Kaku.
"Iya Mbok, ini kamera, buat motret..", jawabku. Tiba-tiba terbersit ide di benakku.
"Mbok, mau difoto?", tanyaku. Aku tidak mengharapkan jawaban secepat itu. Tapi tiba-tiba si Mbok langsung menggeser duduknya, merapikan kain yang dipakai untuk menutupi kepalanya.
Langsung saja aku mengangkat kameraku, membuka tutup lensanya. Jepretan pertama sampai ketiga, ekpresinya...menurutku sangat aneh. Dia menatap lekat lensa kameraku, mengikutinya dengan kaku. Tapi, setelah itu, aku tidak pernah membayangkan, dia menarik kedua ujung bibirnya sehingga menjadi sebuah senyum yang... Oh My Lord... that's the most beautiful smile I've ever seen. Langsung saja aku memotretnya berkali-kali. Aku tidak menangkap lagi wajah yang kaku. Aku bisa menangkap kegembiraan yang lepas dari kedua matanya yang agak berkaca. Entah berapa belas foto yang aku ambil, sampai film di dalam kameraku sudah tidak mau berputar lagi.
Bersamaan dengan Erlin dan Monic yang menghampiri aku untuk mengajak pulang, aku berdiri tidak sabar untuk segera mencetak hasil jepretanku kali di tempat langgananku. Aku menghampiri si Mbok.
"Mbok, aku pulang dulu ya... besok aku kesini, jam segini ya, buat kasih foto yang tadi...", kataku seperti kepada orang yang sangat akrab denganku.
"Tidak usah cah ayu. Saya cuma pingin difoto... saya belum pernah difoto..", jawabnya malu-malu, kali ini dengan senyum. Senyum yang di dalamnya ada ketulusan, kegembiraan dan ... entah aku tidak bisa mendefinisikan. "Maturnuwun sanget, cah ayu...", tambahnya.
Setelah meninggalkan selembar limaribuan di mangkuk plastik si Mbok, aku melangkah di belakang teman-temanku menyusuri trotoar sambil melompat kecil. Aku mendekap tas ranselku dengan tersenyum. Aku senang sekali... hehe.. ternyata, nggak mahal ya untuk membuat orang tersenyum. Senyum terindah yang pernah aku lihat. Bahkan tanpa aku tahu senyum itu mungkin yang pertama setelah semua babak pahit dalam kehidupan si Mbok itu. Semoga Tuhan memberkatimu, Mbok.
Buat si Mbok...
Erlong & Monic, kangen kalian. Masih nyimpen foto-foto kita ga?
Posted at 09:04 pm by greeny
Permalink
Oct 20, 2005
Ketika Hati Harus Memilih
Malam itu pantai tidak seramai biasanya. Di hari kerja pun, kami sering merasa terganggu dengan beberapa orang yang lalu lalang di sekitar kami. Tapi kali ini tidak. Bahkan para pedagang pun sepertinya paham bahwa kami tidak ingin diganggu.
Kami duduk bersebelahan beralaskan sepatu kami masing-masing. Sejak tiba; entah sudah berapa lama kami di sini, yang terdengar hanyalah dentuman ombak dan gemuruh angin. Satu-satunya komunikasi yang terjadi di antara kami ketika dia menutupi punggungku dengan jaketnya. Dia pasti kedinginan. Tapi itulah Don. Selalu bersikap manis dan selalu ingin melindungi. Cowok banget. Mungkin itu yang membuat aku tidak kuasa untuk menolaknya. Tapi... bukannya cowok umumnya begitu? Ah, entahlah.
"Jadi kamu akan menikah dengannya?", suaraku pelan meretakkan kesunyian.
"Aku tidak bilang begitu. Dia cuma menanyakan keseriusanku", jawabnya gusar.
"Ooh." Dia memang tidak mengatakan begitu, tapi aku bisa merasakan dari nada suaranya. Tadi siang di jam makan siang, Don meneleponku, hanya mengatakan ingin mengajakku ke pantai malam ini.
Selepas pulang kantor, naik mobil berdua, menyusuri jalan lurus beraspal menuju pantai, dan setibanya di sana duduk di atas pasir memandang lurus sampai pada satu garis yang membagi laut dan langit selama beberapa menit. Itulah ritual kecil kami, sebelum akhirnya kami mendiskusikan masalah-masalah yang tidak bisa kami bicarakan dengan orang lain. Ritual itu biasanya akan berakhir dengan pelukan erat dan kecupan di kening sebelum kami beranjak meninggalkan pantai dengan kelegaan yang luar biasa.
Tapi kali ini berbeda. Aku merasa bahwa apa yang akan kami bicarakan malam ini akan berakhir dengan tidak seperti biasanya.
"Ra... aku nggak bisa kehilangan kamu...", bisiknya lirih sambil tertunduk, sementara tangannya sibuk memainkan pasir di bawahnya.
"Iya kan, kamu akan menikahinya... aku tau Don..."
"Belum Ra...", sahutnya.
"Sejak awal aku tau bahwa suatu hari kamu akan memilih dia. Dan sekaranglah waktunya", kali ini aku menatap wajahnya yang masih tertunduk.
Seketika itu juga dia membalas tatapanku, "Tapi kamu juga tidak pernah berniat memutuskan Tom kan?"
"Hey, kita sedang bicara tentang kamu dan Sha! Lagipula bukan aku kan yang mau menikah? Dan berapa kali aku bilang tentang sejauh mana komitmenku dengan Tom."
"Ra...please, bantu aku...", suaranya memohon. Tangannya berusaha meraih tanganku. Aku menepisnya.
"Jadi, kamu mau aku pergi... meninggalkan kamu, mengakhiri ini semua? Oke, kalo itu membuatmu lebih mudah...", aku bangkit berdiri, memungut sepatuku dan melangkah menjauh darinya. Segumpal awan gelap ada di pelupuk mataku dan sebentar lagi akan menjadi hujan badai.
"Bukan begitu, sayangku..." Biasanya aku senang mendengar panggilan itu, tapi kali ini membuatku gemetar. "Aku nggak mau kehilangan kamu...", lanjutnya setengah berteriak sambil mengejarku.
Dan entah bagaimana terjadinya, tanpa aku sadari kepalaku sudah berada di dadanya, sementara kedua tangannya erat memelukku. Aku gemetar menahan tangis yang akhirnya meledak juga di dadanya. Tiba-tiba aku sadar, aku akan merindukan pelukan ini. Seolah aku tidak ingin melepasnya. Mungkin ini adalah pelukan terakhirnya.
Perlahan aku melepaskan diri dari pelukannya. Seolah telah menemukan jawabannya masing-masing, kami memungut kembali sepatu kami yang tergeletak di atas pasir. Dia mengulurkan tangannya. Kami bergandengan menuju mobil yang kami parkir agak jauh dari situ. Sesekali kami saling menatap, tanpa sepatah katapun. Seolah kami tau, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Satu hal yang pasti. Apapun yang terjadi nanti, apapun nanti pilihannya... selalu ada satu ruang di hati yang tak seorangpun bisa mengisi.
Sebelum masuk ke dalam mobilnya, aku merogoh saku celanaku, kemudian kusodorkan secarik kertas. Aku menyalinnya tadi dari sebuah email seorang teman. Aku sendiri sudah menghapus email itu, tapi aku masih mengingatnya. Semoga bisa bantu kamu Don...
The best kind of soul mate is the kind you can sit on the porch with,
never say a word, and then walk away
feeling like it was the best conversation you've ever had.
Or someone you can talk to for hours on end everyday,
even though nothing much happened in between
when you last spoke to them.
Your soul mate is someone that can finish what you are saying,
and will come out with the same off track thoughts as you.
Buat yang sedang mencari jawaban atau yang sibuk dengan pilihan.
Buat tim makan siangku: eilleenzz & gue_ganteng_pisan; thx for sharing.
Buat fly_sona, never give up, bro?
Juga buat ganteng, selalu jadi inspirasiku.
Posted at 09:12 pm by greeny
Permalink
Oct 5, 2005
“Bapa, aku nggak bisa tidur…”
“Kenapa? Bukannya malam sudah mendekati pagi?”
“Bapa, kayanya aku bakal dipecat…”
“Kenapa bisa begitu?”, bisiknya.
“Karena perusahaanku akan kehilangan klien terbesarnya. Klien terbesar itu membuat perusahaanku mampu mempekerjakan lebih dari dua ratus orang. Dan Bapa tau kan, setengahnya sendiri diperlukan untuk mengurusi klien terbesar itu. Nah, kalo dia tidak mau lagi menjadi klien kami, bagaimana nasib setengah karyawan kami ini?” ,balasku dengan nafas sedikit terengah karena berusaha menekan sesuatu yang mulai bergejolak di dada.
“Kemari mendekat, anakku…”, tangannya terulur padaku.
“Tunggu dulu Bapa, aku belum selesai…”, aku tidak mempedulikan apapun termasuk uluran tangannya.
“Apalagi?”
“Iya… aku bakal dipecat. Aku tau aku bakal dipecat.”
“Kenapa kamu begitu yakin?” tanyanya seolah menyelidik.
“Gampang saja… Dengan hilangnya klien terbesar ini, tentu saja perusahaan tidak membutuhkan separo dari karyawan kami ini kan? Bahkan kalo kami berhasil mendapatkan klien baru, mana mungkin dapat menggantikan klien terbesar itu, apalagi dalam waktu singkat. Nah, mau tidak mau perusahaan harus memecat sebagian dari kami, agar perusahaan tidak bangkrut,” seperti petasan yang meledak aku berbicara.
Aku merasa butiran hangat mulai menetes dari sudut mataku.
“Aku bakal dipecat, Bapa… Aku masih baru, aku tidak punya prestasi apapun, aku bukan siapa-siapa. Mana mungkin perusahaan memecat orang-orang hebat. Pasti aku, Bapa…”
“Ya ya… cukup masuk akal. Lalu kenapa kalo kamu dipecat, apa yang kamu risaukan…”, pandangannya yang tajam namun tetap lembut menatapku, seolah-olah menginginkan aku menemukan sesuatu di dalamnya.
“Ya ampun, Bapa… ini bukan masalah orang lain, juga bukan sekedar tentang aku…”, aku rasa sebentar lagi tetesan dari sudut mataku akan berubah menjadi air bah. Sesak sekali dada ini.
“Bapa, siapa yang akan menghidupi keluargaku kalo aku dipecat… Bagaimana dengan kuliahku? Belum lagi bagaimana nasib mahluk kecil yang Bapa minta aku untuk menjaganya meski bukan aku yang melahirkannya? Bagaimana dengan masa depanku?”, tangisku tidak terbendung lagi.
Tetap dengan tatapan tajam namun penuh kelembutan, membuatku tidak sanggup menatapnya, “Kamu pikir siapa yang menghidupi keluarga kamu selama ini? Kamu pikir separo gajimu dapat menolong mereka? Kamu pikir kamu bisa membelikan kesehatan dan kebahagian mereka?”
Tiba-tiba tangisku mereda, dan tetap tidak sanggup menatapnya.
Kali ini suara itu terdengar lebih berat, “Siapa yang menolong kamu selama ini sejak kamu kehilangan orang tua kamu? Kamu pikir kamu bisa bertahan hidup dengan segala kemanjaanmu? Apakah kamu ingat siapa yang menghibur kamu ketika kamu harus kehilangan orang yang kamu sayangi? Lantas siapa yang menemani kamu sampai kamu dapat melalui malam-malam yang menyiksa dengan segala persoalan hidup selama ini yang sepertinya tidak akan berakhir?”
Saat itu juga lututku terasa lemas, dadaku bergejolak, bukan amarah namun suatu kelegaan yang akan bebas. Aku tersungkur di kakinya.
“Anakku…”, kali ini suaranya melembut. “Kalo aku berkata bahwa bunga-bunga yang besok akan layu dan mati aku jadikan sedemikian indahnya, dan burung-burung yang beterbangan di udara itu aku pelihara…. Itu bukan omong kosong. Kamu melihatnya sendiri… Lantas, apa yang kamu takutkan?”
Dengan tertunduk malu aku berbisik, “Bapa, peluk aku…”
“Aku sedang memelukmu, anakku…”
buat teman-teman seperjuangan, tetap semangat !!!
thx bro, it's very encouraging.
Posted at 11:45 am by greeny
Permalink
Oct 4, 2005
Sekali lagi aku mensyukuri keterlambatan kereta api Argolawu ini tiba di Jogja. Dalam keadaan biasa, pasti aku sudah ngomel-ngomel, mana pernah sih kereta api tepat waktu. Trus, mana pernah ada sih kompensasi buat setiap keterlambatan itu. Padahal bisa saja ada penumpang yang harus buru-buru mengejar meeting, interview pekerjaan, atau bahkan mengunjungi sanak famili yang sedang sakit dan kemungkinan nggak berumur panjang lagi... Ah, sudahlah, yang penting sekarang aku tidak harus terlalu lama nongkrong di stasiun untuk menunggu waktu check in di hotel yang udah di book oleh station radio di mana klienku mensponsori acara yang diselenggarakan oleh radio itu.
Begitu berhasil turun dari kereta dan keluar dari kerumunan penumpang yang juga tampak sudah tidak sabar, aku berusaha mencari tempat duduk. Wah, lega sekali. Aku melihat jam tanganku. Masih dua jam lagi sampai waktu check in. Tepat di saat aku baru mulai memejamkan mata sedikit melepas kepenatan, ponsel hitam kesayanganku berbunyi.
"Hai Mas Bimo, kok tau sih aku udah nyampe?", sapaku, ada nada riang yang aku sendiri bisa merasakan.
"Iya? Udah sampe? sukurlah enggak parah banget telatnya... Dhe, kamu beruntung banget, kamu bisa check in sekarang kalo mau, aku barusan cek ke hotel."
Aku nggak tau sejak kapan dan kenapa dia memanggilku "Adhek", tapi biarlah, mungkin karena kami sama-sama berasal dari kota yang sama, kami satu almamater dari sebuah universitas negeri terbesar di Jogja, dan tentunya aku lebih muda dari dia.
Rupanya mas Bimo hanya bisa nganter aku sampai di lobi hotel aja, karena dia harus ke studio lagi katanya. Nggak papa, toh di sudut manapun di Jogja ini, aku feel at home, jadi asik-asik aja. Termasuk di hotel ini, hotel terbesar yang ada di jalan utama di Jogja ini. Aku langsung naik ke atas, menuju kamarku di lantai tiga. Setelah meletakkan tas ransel hijau ukuran sedang dan sebuah tas laptopku, aku langsung melemparkan tubuhku ke atas tempat tidur... wah, nyaman sekali setelah lebih dari 10 jam perjalanan dengan kereta api.
Aku terbangun dengan sedikit kaget oleh bunyi ponselku. Tanpa bangkit, aku hanya menggeser tubuhku untuk menggapai ponselku yang ada di ujung tempat tidur. Sempat sekilas melirik jam tanganku yang rupanya tidak sempat aku lepaskan sampai aku ketiduran sejak merebahkan badan tadi. Ya ampun, udah jam setengah dua belas. Lama juga aku ketiduran.
"Halo Mas Bimo," jawabku dengan suara yang masih agak serak.
"Hahaha...baru bangun ya? Piye to, kan acaranya bentar lagi... aku jemput setengah jam lagi cukup nggak buat mandi ama siap-siap?"
"Ya harus cukup, wong acaranya jam dua kan?" sahutku dengan logat yang kalah Jawa.
Nggak lama setelah tutup telpon, aku langsung lari ke kamar mandi. Wah, gagal deh rencana berendam di bath up hotel sambil minum teh camomile. Sambil membiarkan tubuh penatku disiram air hangat oleh shower yang sedikit kusam warnanya, aku tersenyum sendiri. Ini sih udah bagus banget...dibandingin tujuh tahun yang lalu waktu aku masih jadi mahasiswi di sini. Boro-boro berendam, kamar mandi aja musti antri dengan temen-temen kost yang lain. Apalagi kalo ada kuliah pagi. Bangun kesiangan, alamat bakal nggak mandi kalo nggak mau telat sampai kelas. Tuh kan ngelamun lagi... ayo buruan, bentar lagi mas Bimo jemput.
Wah, acara tadi bener-bener menguras energiku. Meski aku nggak ngapa-ngapain, tapi suhu kota Jogja yang dulu rasanya masih bisa ditolerir, sekarang rasanya sudah hampir seperti Jakarta panasnya. Mana acaranya outdoor, jadi nggak pake AC. Ya iyalah, acaranya kan pertandingan basket gitu, cuma emang diadainnya di lapangan terbuka. Makanya, setelah berbasa-basi dengan para panitia, aku langsung cabut dianter Mas Bimo yang kali ini ditemani Siska, katanya dia penyiar di radio itu. Aku menghela napas sambil menarik punggungku lebih jauh ke sandaran di tempat duduk belakang Vios yang dibawa Mas Bimo.
"Mas, boleh muter-muter bentar nggak?" pintaku sambil menegakkan badanku.
"Yakin? Nggak pengen makan dulu? Aku mau ngajak makan kamu di JaKal...", sahut mas Bimo.
"Ya maksutku sambil jalan aja... Eh, makan apa di Jakal? Boleh nggak makan gado-gado, di deket stasiun Lempuyangan itu loh mas...", pintaku lagi dengan sedikit merajuk.
"Hahaha... ya boleh aja, malah bagus, jadi budget entertain kamu nggak gede." Siska ikut tertawa mendengarnya.
Dengan kecepatan sedang mas Bimo membawa mobilnya menelusuri Jalan Solo terus ke Jalan Sudirman. Kami melewati hotel di mana aku menginap. Sampai habis jalan Sudirman, mas Bimo belok ke kiri, ambil arah ke Malioboro. "Gila yak, sekarang Jogja panas banget, lumayan macet pula, apalagi Malioboro...", aku berusaha memecah kesunyian.
"Hehehe...beda banget kan sama jaman kamu masih di sini?", sahutnya. Seolah tau apa yang aku pikirkan, mas Bimo mengambil sebuah CD dan memutarnya. Sambil tetap menatap jalan melalui jendela kiri, dadaku sedikit bergetar mendengar lagu yang sedang diputar. Pulang ke kotamu...ada setangkup haru dalam rindu... Entah kenapa lagu ini terasa beda ketika aku mendengarkannya sekarang. Terbawa sentimentil masa lalu mungkin. Lagu ini seperti menggiringku ke suatu alam yang aku sangat menikmatinya.
Hmm... Jogja. Entah kenapa aku begitu jatuh cinta dengan kota ini. Bahkan lebih dari kota kelahiranku sendiri. Bahkan sampai sekarang, meski suhu kota ini rasanya mampu membakar seluruh kulit, meski kemacetannya sedemikian parah untuk ukuran sebuah kota kecil, meski kejahatan juga semakin meningkat aku dengar.
Nggak terasa mobil sudah memasuki daerah Mrican. Di situ ada beberapa universitas yang membuat daerah itu selalu ramai oleh lalu lalang sepeda motor para mahasiswanya. Gila, apa-apaan nih... kok makin pusing aku ngeliatnya. Ya ampun, perasaan dulu nggak gini deh. Kok di sepanjang kanan kiri jalan sampai bener-bener nggak ada space kosong, semua penuh dengan billboard, signboard, neonboard, dan board-board lain. Salon itu kan dulu nggak ada. Loh, kok selokannya ditutup? Kok tempat fotokopian itu jadi gede banget...
Seolah tau apa yang aku pikirkan, mas Bimo tertawa terkekeh, "Kenapa, bingung ya jadi rame gini..."
Aku hanya mengangguk, tanpa menyahut apapun dan tanpa mengalihkan pandangan.
Tapi aneh, aku tetap cinta dengan Jogjaku ini... aku selalu kangen buat balik kesini sesering aku bisa. Kenapa ya... Apa karena tiga tahun masa kuliahku di sini? Ato karena aku merasa di sini adalah tempat aku memulai babak baru dalam hidupku, melepaskan masa remajaku dan memulai kehidupan sebagai perempuan mandiri dengan segala kebebasan sekaligus permasalahan yang membuat aku semakin matang... Ah, nggak juga, malah bikin pusing kalo dipikir-pikir, hehe... Ato karena di sinilah aku mengawali sebuah hubungan selama empat tahun yang akhirnya kandas juga oleh kekeraskepalaan. Nggak juga, toh aku sudah tidak bisa mengingatnya lagi dengan tepat. Lantas apa sih, sepintas nggak ada yang spesial di kota ini.
Rasanya memang benar, kalo aku boleh meminjam istilah yang dipakai oleh seorang sahabat lama, sang penyair: Jogja adalah kota magis.
"Dhe, ntar malem mau nggak cobain yang baru di Saphir? Nggak kalah deh sama yang di Jakarta...", Sekali lagi mas Bimo berusaha memecah kesunyian.
"Iya Mbak, masih baru, jadi masih bagus", timpal Siska. Aku tau yang mereka maksud. Tapi entah kenapa kali ini aku nggak berminat dengan hingar bingar musik atau lampu disko, atau bahkan musik dari band lokal yang katanya bagus itu.
"Mmm...pengen sih, tapi lain kali aja deh,"tolakku dengan halus. "Eh, tapi Gudeg tugu masih buka ampe pagi kan? Jemput aku jam 12 malem yak...."
"Hahaha... aku suka nih punya klien kayak gini. Irit.", seloroh mas Bimo. "Ya udah, turun gih, tuh udah ditungguin tukang gado-gado..."
Waah, pas banget, perutku tiba-tiba bernyanyi merdu. Saat itu juga, ponselku berbunyi. Kali ini dengan nada yang berbeda sehingga aku tau itu siapa. "Iya sayang, besok siang aku sampai Jakarta. Miss u too..."
Love Jogja and you.
Posted at 11:01 am by greeny
Permalink
Oct 3, 2005
“Cerita dong…”, pinta mahluk disebelahku di belakang setirnya, sambil membawa mobilnya keluar dari gedung kantorku. “Ayo dong…crita…”, kali ini terdengar agak merajuk. Aku suka mendengarnya, tapi itu belum cukup membuat aku membuka mulutku bahkan untuk sepatah kata pun.
“Bentar Gan…”, batinku. Iya, aku masih menikmati wanginya; entah fragrance apa yang dia pakai, tapi aku selalu suka mencium baunya setiap kali kami berdekatan. Apalagi kali ini, dia sempet pulang ke rumah buat mandi sebelum ngejemput aku, jadi masih kuat tercium bau wewangian itu.
Belum jauh dari kantorku, sekali lagi dia melirik ke arahku, memberi isyarat kalo dia masih menunggu sesuatu yang keluar dari mulutku. Sementara yang ditunggu justru tetap tidak bergeming. Sambil tersenyum aku melemparkan pandanganku ke wajahnya, dan sekilas meneliti ke bawah. Celana jins dan kaos putih yang pas dengan tubuhnya, ditambah wewangian dari tubuhnya… hmmm, seger banget ngeliatnya. Aku jadi malu sendiri, dengan baju yang aku pake seharian, badan rasanya lengket semua. Victoria’s Secret yang aku semprot sebelum turun tadi sepertinya nggak nolong banyak, apalagi parfum yang dari pagi aku pakai…bahkan aku udah lupa tadi pagi aku pakai yang mana.
“…cerita dong”, pintanya lagi, kali ini agak memaksa.
“Cerita apa?” jawabku sambil melempar pandangan ke jalan.
“Apa aja”.
“Aku nggak punya cerita, kamu aja,” jawabku masih menatap jalan.
“Masa nggak punya cerita. Aku klitikin nih kalo nggak mau cerita…,” ancamnya. Dan beneran, tangan kirinya langsung mengarah ke pinggangku. Sambil tetap memegang setir dengan tangan kanannya, dia ketawa-ketawa puas ngeliat aku yang lagi teriak-teriak panik karena kegelian. Itu senjatanya setiap kali aku diam dan dia tidak berhasil memaksa aku untuk bicara.
“Makanya, cerita dong, jangan diem aja. Masa nggak punya cerita…ngapain aja tadi, ngerjain apa aja, makan siang di mana, sama siapa aja… Soalnya kalo kamu diem aja aku jadi mikirnya macem-macem. Jangan-jangan kamu bosen…jangan-jangan kamu nggak seneng ketemu aku…….jangan-jangan…”
Aku sudah nggak menyimak lagi kata-katanya, karena batinku keburu menjawab…kalo ada yang ingin aku bilang sekarang, aku seneng banget ketemu kamu. Aku seneng banget cium bau kamu…sampai-sampai aku bisa menciumnya sejak tadi siang meski kamu entah di mana. Kalo aku diam sekarang, karena aku menikmati saat ini, saat aku bareng kamu…saat tanganmu mengelus pipiku, terus pelan-pelan kamu meraih tanganku dan menggenggam erat jemariku, yak, tepat seperti sekarang ini. Aku seneng banget.
Nggak terasa kami sudah sampai di depan kostku. “Ya udah, kamu istirahat ya, “bisiknya sambil sekali lagi mengelus pipiku. Aku mengangguk, “Kamu juga ntar ya, ati-ati…jangan ngebut. Kasih tau kalo udah nyampe rumah.” Dia tersenyum, seolah menjawab, tanpa diminta pun itu akan dia lakukan.
Aku membuka pintu dan turun dari mobil, setelah mendapat sebuah kecupan lembut darinya di pipi kananku. Sambil berjalan menuju kamar, terdengar deru mobilnya meninggalkan kostku. “Bye Ganteng, besok aja ya ceritanya….”
...buat yang merasa Ganteng...
Posted at 10:58 am by greeny
Permalink
|
|

Panggil aku apa aja... Yang pasti aku penyuka sate tulang.
____________________
Berawal dari kenikmatan mendengarkan. Merangkai cerita dari kisah sesungguhnya atau hanya sebatas khayalan.
|
|